News

Iran tunda perundingan teknis dengan AS, protes serangan Israel di Lebanon

Istanbul (KABARIN) - Iran menunda perundingan tingkat teknis dengan Amerika Serikat yang semula dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6), sebagai bentuk protes terhadap dugaan pelanggaran gencatan senjata yang masih terus terjadi oleh Israel, terutama di wilayah Lebanon selatan.

Mengutip sumber pemerintah Pakistan, keputusan tersebut diambil setelah Teheran menerima arahan dari kepemimpinan tertinggi Iran menjelang keberangkatan delegasi ke Swiss.

Perunding utama Iran, Bagher Qalibaf, bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sebelumnya disebut telah bersiap terbang ke Swiss untuk menggelar pembicaraan langsung dengan pihak AS. Namun, rencana itu dibatalkan pada saat-saat terakhir.

Sumber tersebut tidak menjelaskan secara rinci apakah arahan itu berasal langsung dari Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, yang sebelumnya diketahui memiliki pandangan berbeda terkait kesepakatan AS-Iran untuk mengakhiri konflik.

Hingga kini, belum ada jadwal maupun lokasi baru yang ditetapkan untuk melanjutkan perundingan tersebut.

“Pakistan sedang berkomunikasi dengan kedua pihak untuk menetapkan tanggal baru bagi perundingan tingkat teknis guna mencapai kesepakatan akhir,” kata seorang sumber yang mengetahui proses mediasi.

Penundaan itu juga berdampak pada agenda pejabat Amerika Serikat. Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan perjalanannya ke Swiss setelah Pakistan menyampaikan keputusan Iran kepada Washington.

“Logistik perundingan ini memang tak pernah sederhana atau mudah diprediksi. Untuk saat ini, Wakil Presiden tak akan berangkat malam ini,” kata juru bicara Gedung Putih.

Meski demikian, pemerintah AS tetap berharap pembicaraan teknis dapat digelar kembali dalam waktu dekat.

Kementerian Luar Negeri Swiss juga mengonfirmasi bahwa perundingan yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat resmi dibatalkan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad yang membuka jalan bagi perundingan langsung kedua negara. Kesepakatan tersebut memberikan waktu 60 hari bagi Washington dan Teheran untuk merumuskan perjanjian final, dengan fokus utama pada program nuklir Iran.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang bertindak sebagai mediator, menyatakan MoU Islamabad berlaku segera setelah ditandatangani. Kesepakatan itu juga mencakup komitmen penghentian operasi militer di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon, serta penghormatan terhadap kedaulatan negara tersebut.

Sharif turut menyebut Iran dan AS akan mengambil langkah-langkah untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional secara penuh.

Menurut sumber yang sama, Pakistan terus melanjutkan upaya diplomatik guna menjaga momentum dialog dan memastikan proses perundingan dapat kembali berjalan dalam waktu dekat.

Penerjemah: Anton Santoso
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: